Oleh Osman
Mengapa Allah memberikan kita cobaan hidup yang datangnya bertubi-tubi? Karena itu adalah wujud anugerah yang terindah dari Allah untuk kita, agar kita lebih bersabar dalam hidup ini.
Dalam hidup kita dibutuhkan suatu kesabaran dalam menghadapi cobaan. Selain dibutuhkan kesabaran, tentunya juga dibutuhkan satu sikap bijak. Kebijakan dibutuhkan supaya manusia tidak salah langkah dalam menjalani dan mengambil tindakan. Hanya orang bijak yang memiliki pandangan lurus ke depan.
Sabar adalah satu kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan, karena membutuhkan latihan terus menerus. Banyak orang yang jatuh terpuruk dan tidak dapat bangkit lagi karena tidak mampu bersabar dalam menghadapi cobaan hidup maupun menanti ridha Allah. Namun bila kita bisa bersabar, maka banyak rahmat dan nikmat Allah yang akan diterima.
Cobaan hidup itu agaknya kini tengah dialami oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dharmasraya H Maisul ST. Namun, akankah ia mampu untuk bersabar menghadap cobaan yang sedang dihadapi.
Hebatnya, cobaan itu justru datang ketika isu mutasi di jajaran Pemkab Dharmasraya tengah merebak. Diprediksi, beberapa pejabat eselon II akan akan terjungkal atau mungkin juga “dijungkalkan” dari posisinya.
Kabarnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Maisul, akan digantikan pejabat impor yang belum diketahui namanya. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan pihak tertentu untuk menjungkalkan Maisul
Lihatlah bagaimana Maisul “dikerjai” oleh beberapa orang stafnya, ketika hendak melaukan rapat kerja dengan Komisi III DPRD Dharmasraya, yang direncanakan akan digelar bersama, Senin 30 Januari 2012, sekitar pukul 09.00 WIB.
Rapat kerja ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penyerapan anggaran dalam pelaksanaan proyek yang dilaksanakan oleh Dinas PU selama tahun 2011, serta untuk mengetahui kegiatan mana saja yang belum selesai seratus persen dikerjakan.
Namun, rapat itu batal dilaksanakan, karena karena tidak satupun staf dari Dinas PU yang hadir. Kabarnya—dan hal itu diakui beberapa anggota Komisi III—sebelumnya Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul telah meminta maaf, karena tidak bisa menghadiri rapat kerja lantaran ada tugas di Jakarta.
Sebagai pengganti dirinya Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul sudah menunjuk para Kabid yang ada di dinasnya yakni, Kabid Bina Marga, Zulhelmi dan Kabid Cipta Karya, Hendrik, untuk mewakilinya.
Namun orang yang ditunjuk untuk mewakili itu tak kunjung hadir di DPRD Dharmasraya. Dengan tidak hadirnya Kepala Dinas PU atau yang mewakilinya dalam rapat kerja itu, Komisi III DPRD Kabupaten Dharmasraya, merasa dilecehkan oleh mitra kerjanya, Dinas PU Dharmasraya.
Disisi lain, Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul, justru merasa telah dikerjai Kepala Bidang (Kabid) yang ada di dinas yang ia pimpin.
Tak diketahui secara pasti kenapa Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul “dikerjai” oleh stafnya. Tapi yang pasti, semenjak Maisul masuk ke Dharmasraya, banyak yang merasa gerah, terutama staf dan pihak-pihak yang selama ini terkesan bebas untuk “bermain-main” di “dinas basah” ini
Memang semenjak Maisul memimpin Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Dharmasraya, aturan yang begitu ketet mulai diterapkannya, baik pada staf Dinas PU maupun para rekanan.
Bahkan, Kadis PU yang satu ini terlihat begitu berani, dengan tidak “memberi hati” para rekanan “nakal” dalam mengerjakan berbagai infrastruktur di Dharmasraya.
Lihatlah keberaniannya dalam mem-black list enam rekanan nakal, terkait pekerjaan yang tak tuntas hingga mengangkangi kontrak perjanjian sepanjang tahun 2011 lalu.
Artinya, tindakan tegas yang dilakukan Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul itu akan berdampak langsung terhadap rekanan nakal tersebut. Sebab, pasca pem- black list-an itu, selama dua tahun berturut-turut perusahaan tersebut tidak bakal kebagian proyek.
Pada suatu kesempatan, Maisul pernah mengatakan pada saya, begitu ia masuk ke Dharmasraya untuk memimpin Dinas Pekerjaan Umum, pekerjaan pertama yang akan dilakukannya adalah mendisiplinkan stafnya dan rekanan nakal.
Pokoknya, kata Masisul, Dinas PU Dharmasraya dibawah kepemimpinannya, tidak main-main dan tak akan memberi peluang untuk rekanan nakal, karena merugikan masyarakat.
Artinya kata Maisul, bila ada rekanan yang tidak bisa melaksanakan kerja sesuai kontrak kerja, maka tidak bisa ditolerir. Apalagi menyangkut kepentingan masyarakat banyak, sehingga pemutusan kontrak, sekaligus masuk daftar hitam merupakan keputusan dari dinas.
Jajinya itu ternyata telah dibuktikan oleh Kepala Dinas PU Dharmasraya H. Maisul, tak kurang dari enam rekanan yang masuk daftar hitam selama tahun 2011 telah di black list-nya, yaitu ; PT Arafah Anugrah Abadi (AAA), Family Group Utama (FGU), Citra Muda Nur Bersama (CMNB), Pantai Mutiara Abadi (PMA), Mitra Andalan Niaga Nusantara (MANN) dan PT Usaha Kita Abadi (UKA).
Selaku Kepala Dinas PU Dharmasraya, sepertinya Maisul telah menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan. Namun, apakah ini yang menjadi pangkal bala yang menyebabkan orang-orang tertentu berupaya untuk “menjungkalkannya” dari jabatan Kelapa Dinas PU Dharmasraya ?
Bila memang ini terbukti, rasanya Bupati Dharmasraya harus mengambil sikap. Sebab, bila “dinas basah” ini diserahkan pada orang-orang yang bisa diajak untuk “bermain mata”, tentu akan berdampak buruk terhadap kepemimpinan bupati dan daerah Dharmasraya. (*)
Jumat, 24 Februari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar